Hello all,
Saatnya untuk "nyampah" di blog ini lagi. Di tulisan yang lalu sempat dibahas mengenai sinetron kejar tayang. Kali ini akan disambung pembahasannya dengan sedikit detail.
Kalau kita mengikuti 'berita' ada sinetron yang tayang ke sekian ratus bahkan ada yang mencapai ribuan episode. Nah our 7 baru saja menembus episode 50. Dalam 50 episode ini kalau menurutku sudah kehabisan ide cerita. Plot yang diulang-ulang dan 'tingkah' karakter yang repetitif. Seakan penulis sudah kehabisan ide untuk cerita; sebenarnya ini bukan hanya terjadi di C7S saja, banyak sinetron kejar tayang lain yang memiliki plot plot serupa, dan pada akhirnya karena dikejar tayang, penguluran episode akan sering terjadi. Coba perhatikan satu scene yang seakan diulur-ulur. Satu scene yang seharusnya 5 menit bisa selesai akhirnya diulur-ulur jadinya 10 menit.
Semua tergantung dari rating. Rating semakin bagus episode semakin panjang, rating menurun otomatis sinetron terancam di'bungkus'. Tapi dari production house/tv juga harus invest di skrip dan lokasi yg bagus. Perhatikan deh sinetron yg bagus dan kesannya gak nanggung dari lokasi shooting saja sudah kelihatan; tidak di tempat yg itu itu saja(walau pada case ini Rusun). Variasi lokasi juga bisa menambah kesegaran dari jalan cerita.
Di C7S apa yang kurang coba, penulisnya Hilman, pemain-pemainnya dari pemain senior kaliber piala Citra (Roy Marten, Minati Atmanegara dan Rico Tampaty ), regular pemain sinetron/FTV (Baim Wong, Cut Memey, Mischa, Raya, Gege, Shandy dan Gunawan) dan tentunya 7ICONS. Dari bobot pemain saja, sinetron ini harus hits. Cuma tetap jalan cerita yang menarik tetap sebuah keharusan.
Nah, jika dan ini hanya jika C7S dibungkus, nah terus mereka ngapain? :D Ini sudah tiga bulan ini merek amencurahkan semua energi dan waktu untuk ini. Jika setelah sekian episode lagi ternyata ratingnya turun, stasiun TV akan infokan ke production house bahwa jika rating ke depannya masih jelek maka sinetron ini akan dibungkus saja. Bagi PH dan stasiun TV akan dengan mudahnya cut semua produksi dan memulai project baru, pemain-pemain yang memang berasal dari sinetron mungkin akan dengan mudahnya pindah project, yang 7 ini akarnya adalah musik, di dunia musik tetap harus berkarya sebab pendatang-pendatang baru itu semakin hari semakin banyak yang berkiprah di dunia musik kita ini. Dengan vakumnya 7, mungkin akan sangat berat bagi mereka untuk kembali berkarya, apalagi semakin lama tayang sinetron akan semakin lama mereka vakum dari musik. Serba salah bagi fans, mau melihat terus di layar kaca, juga mau lihat mereka tetep perform di musik; sebenarnya fans yang menentukan. Coba dipikirkan semakin 'minat' fans akan 'idola' semakin berkibar pula idola itu, setelah fans mulai meninggalkan idola itu maka dengan sendirinya idola itu akan tenggelam, alias gak laku. Walah jangan sampe itu terjadi yah. Anyway, ini tulisan memang tidka memberikan solusi terhadap apa yang sedang terjadi, hanyalah sharing sedikit sudut pandang dari sisi lain saja.
In the end, Production House/TV stations are still the winners.
Friday, March 22, 2013
Sunday, March 17, 2013
The Need of Bandwidth
Hello all,
Di era globalisasi dan banjir informasi ini, kebutuhan akan dataplan/bandwidth internet yang cepat itu sudah menjadi suatu keharusan bagi kebanyakan orang. Satu hari saja tanpa internet connection rasanya seperti terputus dari dunia luar. Kehausan akan 'informasi' memacu perkembangan akan kebutuhan ini, baik informasi yang postitif maupun informasi yang negatif. Semakin hari orang semakin rakus akan "dataplan", aku mau quota unlimited, aku mau kecepatan 7,2Mbps, aku mau 4G dan sebagainya, semua demi kelancaraan informasi yang dicari.
Coba dibaca satu persatu perilaku "rata-rata" orang saat ini, correct me if I am wrong :)
1. Bangun tidur langsung check TL Twitter, Path, Instagram, Facebook, status BBM dan sebagainya
2. Posting apapun kegiatan mulai dari "macet, huuh" sampe "hoammm ngantuk abis ngeksis di XXXX semalam"
3. Kalau lagi makan gak lupa ngepost foto makanannya di Twitter/Path/Instagram/dsb
4. Status galau diposting dimanapun Social Network yang dipakai
5. Pacaran di Social Media [ pacaran gak harus diumbar ke khalayak ramai kalee :D ]
6. Social media menjadi "ajang pameran" barang pemberian "seseorang" :D
7. Minimal satu jam sekali buka smartphone/iPhone/BB stalking someone's status/TL/foto
8. Mendokumentasikan seluruh hidupnya dengan foto sana-sini dari iPhone/BB/smartphonenya
9. Sebelum tidur juga checklist datu satu social media yang dimiliki :)
Tapi jangan kecil hati dulu, fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia tercinta ini, ini terjadi di hampir seluruh dunia, hanya level "kita" di Indonesia ini lebih tinggi sedikit :D :D LOL
Globalisasi informasi memang tidak bisa dibendung, tinggal dari kita kita saja yang harus menyaring dan mempergunakannya sebaik-baiknya.
Perlu diingat hal berikut ini
1. Bersosialisasilah face to face jangan melalui internet
2. Hari itu akan lebih indah jika dilihat dengan mata kepala sendiri bukan melalui screen hp/iPhone
3.Tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman diri daripada pengalaman dari cerita orang so experience LIFE
4. Go out to nature and embrace the greatness of it.
5. Coba deh leave your "internet life" satu jam saja setiap hari (kecuali lagi tidur :)) dan bersosialisasi dalam arti yang sebenarnya
Well, see you in the next writing :)
Di era globalisasi dan banjir informasi ini, kebutuhan akan dataplan/bandwidth internet yang cepat itu sudah menjadi suatu keharusan bagi kebanyakan orang. Satu hari saja tanpa internet connection rasanya seperti terputus dari dunia luar. Kehausan akan 'informasi' memacu perkembangan akan kebutuhan ini, baik informasi yang postitif maupun informasi yang negatif. Semakin hari orang semakin rakus akan "dataplan", aku mau quota unlimited, aku mau kecepatan 7,2Mbps, aku mau 4G dan sebagainya, semua demi kelancaraan informasi yang dicari.
Coba dibaca satu persatu perilaku "rata-rata" orang saat ini, correct me if I am wrong :)
1. Bangun tidur langsung check TL Twitter, Path, Instagram, Facebook, status BBM dan sebagainya
2. Posting apapun kegiatan mulai dari "macet, huuh" sampe "hoammm ngantuk abis ngeksis di XXXX semalam"
3. Kalau lagi makan gak lupa ngepost foto makanannya di Twitter/Path/Instagram/dsb
4. Status galau diposting dimanapun Social Network yang dipakai
5. Pacaran di Social Media [ pacaran gak harus diumbar ke khalayak ramai kalee :D ]
6. Social media menjadi "ajang pameran" barang pemberian "seseorang" :D
7. Minimal satu jam sekali buka smartphone/iPhone/BB stalking someone's status/TL/foto
8. Mendokumentasikan seluruh hidupnya dengan foto sana-sini dari iPhone/BB/smartphonenya
9. Sebelum tidur juga checklist datu satu social media yang dimiliki :)
Tapi jangan kecil hati dulu, fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia tercinta ini, ini terjadi di hampir seluruh dunia, hanya level "kita" di Indonesia ini lebih tinggi sedikit :D :D LOL
Globalisasi informasi memang tidak bisa dibendung, tinggal dari kita kita saja yang harus menyaring dan mempergunakannya sebaik-baiknya.
Perlu diingat hal berikut ini
1. Bersosialisasilah face to face jangan melalui internet
2. Hari itu akan lebih indah jika dilihat dengan mata kepala sendiri bukan melalui screen hp/iPhone
3.Tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman diri daripada pengalaman dari cerita orang so experience LIFE
4. Go out to nature and embrace the greatness of it.
5. Coba deh leave your "internet life" satu jam saja setiap hari (kecuali lagi tidur :)) dan bersosialisasi dalam arti yang sebenarnya
Well, see you in the next writing :)
Tuesday, March 12, 2013
Between the TV Glass and Reality
Hello guys, long time no see. No see disini ya di blog :D. It is time to start writing again. Seperti yang kita ketahui, our beloved 7 sekarang sedang sibuk shooting stripping, dan C7S saat ini ratingnya cukup baik dan masih terus diproduksi. Semoga panjang dan semakin berbobot jalan ceritanya. That is our wish.
Tapi, di tulisan blog kali ini ada sedikit yang mau aku sharing tentang stripping sinetron. Di sisi kita fans dan penonton maunya sinetron ini berjalan terus kalau bisa sampai ratusan episode dan malahan kalau bisa jam tayangnya ditambah. Ya kan? Yuk kita kupas dari berbagai sisi di bawah ini
Dari sisi fans/penonton:
1.Episodenya harus panjang kalau bias ratusan episode
2.Jam tayang lebih dari satu jam
3.Selain lihat di sinetron, fans juga tetap mau melihat on air atau off air performances dari “7”
4.Itu saja sih kalau dari sisi General Audiences
Dari sisi pemain/idola kalian:
1.Kalau bisa panjang episodenya sehingga fee yang diterima juga lumayan J
2.Shooting time yang lebih flexible, tapi karen mengikuti kejar tayang yang dikehendaki audiences maka otomatis setiap hari shooting dari pagi sampai pagi lagi
3.Karena waktu dipakai untuk shooting setiap hari otomatis Social Life terutama social life pemeran utama dalam hal ini “7” menjadi sangat minim, boro-boro mau hang out sama temen-temen, ngurus diri sendiri aja repot
4.Otomatis jadi “warga” lokasi stripping sebab sebagian besar waktu dihabiskan di sana
2.Jam tayang lebih dari satu jam
3.Selain lihat di sinetron, fans juga tetap mau melihat on air atau off air performances dari “7”
4.Itu saja sih kalau dari sisi General Audiences
Dari sisi pemain/idola kalian:
1.Kalau bisa panjang episodenya sehingga fee yang diterima juga lumayan J
2.Shooting time yang lebih flexible, tapi karen mengikuti kejar tayang yang dikehendaki audiences maka otomatis setiap hari shooting dari pagi sampai pagi lagi
3.Karena waktu dipakai untuk shooting setiap hari otomatis Social Life terutama social life pemeran utama dalam hal ini “7” menjadi sangat minim, boro-boro mau hang out sama temen-temen, ngurus diri sendiri aja repot
4.Otomatis jadi “warga” lokasi stripping sebab sebagian besar waktu dihabiskan di sana
5.Waktu istirahat dipakai semaksimal mungkin di jeda shooting
6. Fisik dan mental terkuras dengan sendirinya
Dari sisi stasiun TV/produser/sponsor/sutradara/writer
1.Rating tinggi berarti lebih banyak episode yang berarti lebih banyak iklan yang masuk otomatis pendapatan dari sinetron meningkat
2.Akan terus diproduksi sampai demand penonton(rating) atau sponsor(iklan) menurun
3.Semakin banyak lagi pesan-pesan sponsor yang akan dimasukan berarti more and more money
4.Sutradara akan memiliki banyak pengalaman dengan shooting stripping, apalagi jika sutradaranya masih baru maka dengan ratusan episode di resumenya akan menaikan nama dan nilainya.
5.Karena diburu kejar tayang, skrip asli dari penulis akan diburu-buru sehingga bisa melenceng dari intisari cerita sebenarnya dan kesannya malah ceritnya jadi asal-asalan
Dari sisi manajemen artis/idola
1.Shooting stripping berarti tidak bisa menerima job on/off air untuk sementara
2.Tapi karena rating bagus, episode banyak, pemasukan management fee tetap mengalir, sedikit banyak menggantikan pemasukan yang hilang karena tidak bisa show on/off air.
3.Shooting stripping means more income and less expenses. Kalau on dan off air, orang dari management akan harus ada dan banyak persiapan-persiapan intra management yang harus disipakan dan dikeluarkan. Dengan shooting, ‘aset-aset’ mereka diparkir dengan aman di lokasi produksi sinetron ---> More money for them
Inti dari semua ini adalah uang, mungkin kitas ebagai fans akan sangat senang sekali melihat mereka di layar kaca setiap hari, malah mau lihat lebih dan lebih seperti di acara on-air maupun off-airnya. Tetapi harus kita sadari "7" adalah mesin pencetak uang dalam hal ini, mereka akan terus "dipaksa" untuk mencetaklebih dan lebih, apalagi jika permintaan kita tetap tinggi; hukum ekonomi berlaku, Suppply dan Demand. Semakin tinggi demand maka supply akan terus digeber.
Karena terus digeber kadang ketahan fisik dan mental seseorang itu sangat diuji; tidak heran banyak yang mencari jalan 'alternatif' untuk tetap prima dan fit di sela shooting stripping. Alternatif disini sangat sensitif; intinya yaitu zat additif yang membuat seseorang itu segar selalu, walau dalam jangka panjang efeknya justru akan memperparah kondisi badannya. Siapa yang harus disalahkan jika ini sudah terjadi?
Mungkin akan ada koment bahwa blog ini sotoy dan sebagainya, tapi ini realita dari sinetron dan sistem hiburan di negeri kita tercinta ini. Mohon maaf jika ada yang merasa disinggung atau tersinggung di tulisan sederhana ini :) Comments are welcome....
Just my 2 cents
6. Fisik dan mental terkuras dengan sendirinya
Dari sisi stasiun TV/produser/sponsor/sutradara/writer
1.Rating tinggi berarti lebih banyak episode yang berarti lebih banyak iklan yang masuk otomatis pendapatan dari sinetron meningkat
2.Akan terus diproduksi sampai demand penonton(rating) atau sponsor(iklan) menurun
3.Semakin banyak lagi pesan-pesan sponsor yang akan dimasukan berarti more and more money
4.Sutradara akan memiliki banyak pengalaman dengan shooting stripping, apalagi jika sutradaranya masih baru maka dengan ratusan episode di resumenya akan menaikan nama dan nilainya.
5.Karena diburu kejar tayang, skrip asli dari penulis akan diburu-buru sehingga bisa melenceng dari intisari cerita sebenarnya dan kesannya malah ceritnya jadi asal-asalan
Dari sisi manajemen artis/idola
1.Shooting stripping berarti tidak bisa menerima job on/off air untuk sementara
2.Tapi karena rating bagus, episode banyak, pemasukan management fee tetap mengalir, sedikit banyak menggantikan pemasukan yang hilang karena tidak bisa show on/off air.
3.Shooting stripping means more income and less expenses. Kalau on dan off air, orang dari management akan harus ada dan banyak persiapan-persiapan intra management yang harus disipakan dan dikeluarkan. Dengan shooting, ‘aset-aset’ mereka diparkir dengan aman di lokasi produksi sinetron ---> More money for them
Inti dari semua ini adalah uang, mungkin kitas ebagai fans akan sangat senang sekali melihat mereka di layar kaca setiap hari, malah mau lihat lebih dan lebih seperti di acara on-air maupun off-airnya. Tetapi harus kita sadari "7" adalah mesin pencetak uang dalam hal ini, mereka akan terus "dipaksa" untuk mencetaklebih dan lebih, apalagi jika permintaan kita tetap tinggi; hukum ekonomi berlaku, Suppply dan Demand. Semakin tinggi demand maka supply akan terus digeber.
Karena terus digeber kadang ketahan fisik dan mental seseorang itu sangat diuji; tidak heran banyak yang mencari jalan 'alternatif' untuk tetap prima dan fit di sela shooting stripping. Alternatif disini sangat sensitif; intinya yaitu zat additif yang membuat seseorang itu segar selalu, walau dalam jangka panjang efeknya justru akan memperparah kondisi badannya. Siapa yang harus disalahkan jika ini sudah terjadi?
Mungkin akan ada koment bahwa blog ini sotoy dan sebagainya, tapi ini realita dari sinetron dan sistem hiburan di negeri kita tercinta ini. Mohon maaf jika ada yang merasa disinggung atau tersinggung di tulisan sederhana ini :) Comments are welcome....
Just my 2 cents
Monday, September 17, 2012
Noah's Revelation, End of BB/GB? Really? Part 2
Menyambung tulisan terakhir, ada benarnya kembalinya Ariel Peter Pan di Noah akan sedikit mengguncang blantika musik Indonesia sekali lagi, tetapi tidak berarti seluruh genre musik yang lain akan tenggelam dengan sendirinya. Group-group (boyband/girlband), Pop Melayu, Dangdut Rock akan tetap memiliki pasarnya masing-masing.Penduduk Indonesia ada sekitar 220 juta jiwa, anggaplah hanya 10% yang mengikuti dan menikmati musik, yaitu sekitar 22 juta jiwa, dan masing-masing akan memiliki preferensi sendiri-sendiri dengan cita rasa musiknya, dan satu lagi pada umumnya satu orang tidak mungkin HANYA suka satu jenis musik.
Jadi analyst yang membuat pernyataan bahwa Noah akan 'mematikan' BB BB dan GB GB yang belakangan ini 'menjamur' itu SALAH. Mungkin akan ada BB BB dan GB GB yang akan bubar dalam waktu dekat, tapi itu bukan gara-gara kembalinya Noah akan tetapi karena INKONSISTENSI group-group itu sendiri. Group-group yang tetap konsiten dan tetap bekerja keras akan terus eksis di musik Indonesia. Mungkin pada saat ada beberapa BB/GB yang bubar akan bersorak bahwa analisis mereka benar, tetapi tunggu dulu, harus objektif. Kalau memang Noah akan mematikan BB/GB maka dengan argumen itu SEMUA BB dan GB harus bubar. benar?
Inti dari artikel ini adalah, segmentasi market musik/entertainment kita itu sudah sangat besar sekalai, sudah berbeda dari 3 atau 4 tahun lalu, musik/entertainment adalah kebutuhan saat ini. Jadi jangankan BB/GB/Groups, genre apapun akan tetap memliki pasar tersendiri. Jadi jangan terburu-buru menyatakan Noah datang yang lain 'mati', get real :)
Just my 2 cents
Jadi analyst yang membuat pernyataan bahwa Noah akan 'mematikan' BB BB dan GB GB yang belakangan ini 'menjamur' itu SALAH. Mungkin akan ada BB BB dan GB GB yang akan bubar dalam waktu dekat, tapi itu bukan gara-gara kembalinya Noah akan tetapi karena INKONSISTENSI group-group itu sendiri. Group-group yang tetap konsiten dan tetap bekerja keras akan terus eksis di musik Indonesia. Mungkin pada saat ada beberapa BB/GB yang bubar akan bersorak bahwa analisis mereka benar, tetapi tunggu dulu, harus objektif. Kalau memang Noah akan mematikan BB/GB maka dengan argumen itu SEMUA BB dan GB harus bubar. benar?
Inti dari artikel ini adalah, segmentasi market musik/entertainment kita itu sudah sangat besar sekalai, sudah berbeda dari 3 atau 4 tahun lalu, musik/entertainment adalah kebutuhan saat ini. Jadi jangankan BB/GB/Groups, genre apapun akan tetap memliki pasar tersendiri. Jadi jangan terburu-buru menyatakan Noah datang yang lain 'mati', get real :)
Just my 2 cents
Friday, September 14, 2012
Noah's Revelation, End of BB/GB? Really? Part 1
Peter Pan, khususny Ariel harus diakui adalah suatu fenomena musik yang cukup berpengaruh di dunia musik Indonesia; di tahun 2000-an memang Peter Pan merajai tangga musik di Indonesia. Two thumbs up untuk mereka, lagu-lagu hits mereka terdengar dimana-mana, mulai dari angkot sampai ke cafe-cafe upscale. Seakan tanpa terbendung popularitas Peter Pan semakin melambung sampai kasus Ariel mencuat, otomatis Peter Pan mati suri. Pada saat Peter Pan vacum ini mulailah bermunculan gorup vokal cowo (lebih populer disebut boyband) SMASH dan diikuti oleh group vokal cewe (lebih populer disebut girbland) 7ICONS di dunia musik Indonesia.
Kehadiran SMASH dan 7ICONS mungkin dinilai oleh beberapa pihak saat yang tepat untuk memeriahkan blantika musik kita semasa vakumnya Peter Pan dan dianggap karena Peter Pan tidak ada maka group-group ini bisa booming, Itu tidak tepat sebenarnya; walau Ariel tidak mendapatkan masalah, group-group ini akan tetap muncul dan berkembang seiring dengan trend Global saat ini yaitu K-Pop. Dengan pengaruh globalisasi dan konsumsi media yang besar, trend K-Pop akan tetap me'wabah' dan menciptakan 'demam' baru ke musik Indonesia, sama halnya pada tahun 1990an pada saat 'demam' NKOTB, N'Sync dan Spice Gilrs (search di GOOGLE yah kalau ga tau apa itu ).
Trend musik itu evolves seperti roda yang berputar, nothing lasts forever. Walau Peter Pan saat itu tetap berkarya, group-group dan band lain (Melayu seperti ST12, dll) akan tetap memasarkan diri mereka dan memenangkan hati publik untuk 'ngefans'. Evolusi genre itu paling lama 5 tahun, setelah 3 tahun akan mulai bergeser; coba lihat ilustrasi di bawah ini
Market Musik Indonesia dimulai dari 1985 sebab di bawah itu sudah akan direpeat dalam waktu dekat
1985-1990
Musik yang mendayu-dayu masih mendominasi sampai sekitar 1988 musik Heavy Metal yang dipengaruhi Guns'N'Roses dan Metaliica mulai masuk ke Indonesia
1990-1995
Transisi Heavy Metal ke era musik Pop ; Slank, Kahitna, KLA Project, Ada Band, AB Three dan sebagainya
1996-2000
Transisi Pop ke Soft Rock ; Dewa 19, SO7, Padi, Gigi, Naif, dan sebagainya
2000-2005
Soft Rock dan Pop Rock ; T2, J-Rocks, Ratu, Peter Pan, Andra & The Backbone, dan sebagainya
2006-2009
Kejayaan Pop Rock ; Peter Pan, Andra & The Backbone, D'Masiv, The Changcutters, Nidji, dan sebagainya
2008-2010
Transisi dari Pop Rock ke Rock Melayu ; ST12, Matta, Wali, Armada dan sebagainya
2010-unknown
Transisi ke group(BB/GB) yang dipengaruhi berat oleh J-POP dan K-POP ; SMASH. 7ICONS, Cherrybelle, S9B, dan banyak lagi yang sejenis
Ilustrasi di atas hanya gambaran berputarnya genre musik di Indonesia, memang di era-era itu banyak genre lain yang eksis, tapi nama-nama yang disebutkan di era itu adalah yang menonjol pada saat itu.
To Be Continued,,,
Wednesday, August 8, 2012
On Air : Behind the Scenes of On-Air Music Performances : Part 2
Menyambung postingan kemarin, memang itu yang ditulis bukan semuanya bagi stasiun televisi, tetapi itu merupakan garis besar acara musik itu.
Bagi artis/musisi sendiri;
Bagi artis/musisi sendiri;
- Artis/musisi perlu stasiun TV untuk menaikan media eksposure mereka dengan sering tampil di acara on-air musik, jadi dari management yang baru akan mengorbitkan artisnya akan melobby keras stasiun televisi untuk bisa tampil on-air
- Bagi sebagian artis tampil on-air di TV, terutama artis solo biasanya tidak masalah dengan perlengkapan, akan teteapi bagi group atau band justru mereka ditekan untuk tampil bukan seperti mereka sendiri dengan alasan teknis, alatnya kurang, micnya cuma tiga dan sebagainya. Dan pada akhirnya harus playback, bagi artis baru mungkin harus menerima, sebab juka tidak demikian mereka tidak akan bisa muncul di on-air. Akan tetapi artis yang sudah eksis biasanya sudah tidak mau menerima kondisi ini, mereka tetap mau tampil live dengan didukung minimal perlengkapan yang cukup atau mereka memilih untuk tidak berpartisipasi di acara musik itu. Nah, pada saat ini, biasanya artis itu bisa disisihkan oleh stasiun TV karena dicap ribet/sombong; sedangkan artis itu justru menghindari predikat playback/lipsync yang riuh dibicarakan.
- Dan artis yang sudah mulai mengorbit biasanya jadwal tampil dimana-mana mulai banyak, akan tetapi mereka harus mengimbangi dengan penampilan on-air di TV sebab persepsi masyarakat kita jika tidak tampil di TV lagi berarti sudah gak laku atau tenggelam.
- Dalam prakteknya sekarang manajemen artis akan sebisanya mengisi job off-air dan kemudian memberikan slot kosong ke stasiun TV untuk perform On-Air, salah satunya adalah masalah kompensasi fee on-air yang bisa hanya 1/20 dari kompensasi fee off-air (ini variable masing-masing artis bisa berbeda). Kadang biaya untuk make-up dan persiapan jauh melebihi kompensasi yang diterima. Inilah juga menjadi salah satu alasan kenapa jarang tampil on-air tetapi ambil job off-air bagi artis/musisi itu.
- Job on-air terutama yang live malam hari kadang perlu persiapan dua hari; contohnya acaranya besok malam pukul 19:30, tapi hari ini sudah harus blocking GR dari sore sampai malam (itu lazim) dan besoknya sudah harus stand by dari siang harinya. Sesampainya di venue ya pada umumnya menunggu dan menunggu sampai jam perfrom, dan performance yang hanya satu atau dua lagu perlu dua hari untuk mempersiapkannya.
- Tapi tetap show on-air dan off-air harus diseimbangkan, terutama show on-air yang hitungannya besar baik di nama dan eksposure seperti contohnya Indonesian Idol, Ultah stasiun Televisi, Acara Award-award dan sebagainya.
Intinya stasiun TV dan artis tetap saling membutuhkan, tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Memang plus minus di masing-masing pihak itu ada, akan tetapi itulah dunia entertainment, keras dan penuh dengan intrik. Dengan menggunakan hukum alam oleh Newton yaitu dimana ada aksi maka akan reaksi, itu yang mebuat dunia entertainment kita ini semakin menarik untuk disimak.
Monday, August 6, 2012
On Air : Behind the Scenes of On-Air Music Performances : Part 1
Seringkali dipertanyakan kenapa artis ini atau artis itu tidak pernah muncul lagi di acara musik di televisi, sudah tenggelam ya? Gak laku lagi ya? Dulu kan sering tampil kok sekarang gak pernah muncul lagi yah? Dan banyak macam lagi pertanyaannya. Di postingan kali ini akan dicoba diberi sedikit bocoran informasi atau info tentang on-air perfromances di stasiun televisi.
Sangat benar sekali stasiun televisi dan artis/entertainer saling membutuhkan, stasiun televisi butuh pengisi acara dan artis/entertainer butuh eksposure di publik salah satu cara yang paling efektif adalah dengan sering muncul di acara musik di televisi. Kedua pihak ini saling bersinergi untuk kebaikan masing-masing dari awal. Suatu hubungan yang saling menguntungkan seharusnya teteap berjalan dan semakin baik kedepannya. Ya, itu teorinya, akan tetapi dalam pelakasanaanya tidaklah selalu indah seperti itu.
Bagi stasiun televisi;
Sangat benar sekali stasiun televisi dan artis/entertainer saling membutuhkan, stasiun televisi butuh pengisi acara dan artis/entertainer butuh eksposure di publik salah satu cara yang paling efektif adalah dengan sering muncul di acara musik di televisi. Kedua pihak ini saling bersinergi untuk kebaikan masing-masing dari awal. Suatu hubungan yang saling menguntungkan seharusnya teteap berjalan dan semakin baik kedepannya. Ya, itu teorinya, akan tetapi dalam pelakasanaanya tidaklah selalu indah seperti itu.
Bagi stasiun televisi;
- Stasiun TV butuh artis/musisi untuk mengisi acara-acara musik di stasiun TV nya dan tidak mau kalah dari stasiun-stasiun TV lainnya contoh ; Dahsyat, iMusik, Inbox, Mantap dan belasan acaranya lainnya yang setipe.
- Untuk mengundang artis/musisi, stasiun TV memliki budget , sebab artis/musisi secara professional tidak mungkin tidak diberikan kompensasi kecuali acara charity. Budget itu akan terus menggelembung jika jumlah pengisi acara semakin banyak
- Semakin banyak pengisi acara itu yang dikehendaki oleh audiense/pemirsa, sedangkan budget terbata ini
- Mulailah dibuat penghematan budget dengan dikurangi nilai kompensasi untuk si artis/musisi, sebab TV menyadari artis perlu eksposure, kartu ini yang dimainkan. Kemudian penghematan di biaya produksi seperti perlengkapan alat musik, contoh paling gampang adalah musik Playback, dimana artis terutama group yang memerlukan banyak microphone dan peralatan di-cut dan 'dipaksa' untuk playback. Dengan playback biaya produksi bisa ditekan serendah mungkin, dan stasiun TV tidak mau dibuat ribet harus menyiapakan perlengakapn untuk satu grup yang hanya menyanyi satu atau dua lagu saja.
- Budget untuk penggembira acara juga ditekan/dikurangi, supaya mereka bisa menggalang lebih banyak lagi massa yang menonton acara on-air secara live.
- Untuk acara-acara musik tertentu karen tingginya biaya produksi dibuatlah kuis-kuis SMS yang kelihatannya menggiurkan akan tetapi justru bisa membantu sebagian besar biaya produksi acara itu. Baca itu di sini.
- Acara musik ini harus jalan terus sebab ini adalah satu satu icon keberhasilannya, semakin banyak artis yang berpartisipasi, semakin baik predikat acara itu.
- By the end of the day, acara itu harus untung secara keseluruhan. Pendapatan iklan & on-screen promotionn + SMS harus bisa melebihi biaya produksi yang meliputi fee artis/musisi, fee extras, stage & equipment dan sebagainya. Jika acara itu merugi maka dari stasiun TV akan menghentikan acara itu dengan sendirinya. Jika kita lihat acara-acara musik yang masih bisa bertahan dapat kalian nilai sendiri.
To be continued...
Subscribe to:
Posts (Atom)

